Ada Yang Unik, Permainan Tradisional Jadi Tema Gelar Karya P5 SMPN 1 Boyolangu

TULUNGAGUNG – Ratusan siswa SMP Negeri 1 Boyolangu asyik bermain beragam permainan mulai dari Gedrik, Gobak Sodor, Bentengan, Semprengan Karet, Jamuran, dan ada juga Makanan Tradisional serta Menampilkan Drama Jawa pada hari ini, Senin (09/10/2023).

 

Bahkan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Boyolangu Adi Sutignyo, S.Pd terlihat sangat antusias menikmati permainan dan juga sempat ikut bermain. Rupanya mereka sedang mengikuti permainan gelar Karya Siswa dengan membawa sebuah tema “Kearifan Lokal”.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Boyolangu Adi Sutignyo menuturkan alasan mengambil tema “Kearifan Lokal” lebih spesifik ke permainan tradisional karena efek negatif kemajuan teknologi seperti handphone. Secara tidak disadari penggunaan HP yang berlebihan membuat anak apatis dan terganggunya interaksi sosial.

“Gadget ini oke dari segi kemajuan teknologi, akan tetapi dari sisi sosial bagi anak-anak ada dampak negatifnya. Kelihatannya menggerombol dan ternyata lebih asyik dengan HP tanpa ada interaksi dengan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Dengan mengajak anak-anak bermain mainan tradisional, pihak sekolah ingin mengembalikan dunia anak-anak untuk bermain bersama. Antusias anak-anak terhadap permainan tradisional menurutnya sejauh ini cukup bagus.

Selanjutnya Adi Sutignyo juga menambahkan dalam kegiatan pamer karya P5 ini bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian siswa dalam berkarya dan sesuai dengan Profil Pelajaran Pancasila dan kegiatan ini sebagai implementasi dari program kurikulum merdeka belajar.

“Kegiatan ini sebagai wujud dari Profil Pelajar Pancasila, yang pertama kemandirian dimana setiap kelompok melakukan gotong royong atau kebersamaan yang menjadi satu serta mandiri berkreatifitas,” katanya.

Adik Sutignyo menambahkan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar ini, tenaga pengajar di SMP Negeri 1 Boyolangu telah memiliki strategi dalam penerapannya. Melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) ini, sebagai pedoman para guru dalam melakukan pembelajaran.

“Implementasi program merdeka belajar untuk sekolah kami masuk pada kategori merdeka berubah yang artinya semua terkait dengan materi pembelajaran para guru mempunyai dasar utama melalui PMM. Dari situ makan materi terkait program pembelajaran di SMP sudah ada, tentu tidak boleh meninggalkan profil pelajar pancasila,” tutupnya.

 

Ditempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung Rahadi Puspita Bintara, S.E,.M.SI mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam gelaran karya P5 bisa mengedukasi siswa-siswa akan kembali belajar tentang kearifan lokal dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih nendalam tentang kearifan lokal yang ada.

 

“Kita sangat mengapresiasi dengan kegiatan ini karena siswa-siswa bisa berkreasi dengan karya mereka, dan juga menjadi salah satu bentuk edukasi dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berkreasi,” tuturnya.

 

Rahadi juga berharap dengan adanya kegiatan karya P5 dengan tema kearifan lokal ini, diharapkan siswa-siswa dapat lebih mengenal dan menghargai kearifan lokal yang ada di sekitar mereka. Selain itu juga diharapkan pula munculnya generasi muda yang peduli dan terus melestarikan kekayaan budaya lokal, tutup Rahadi.
(RED)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *