Sementara itu, anggota banggar DPRD Tulungagung, Andri Santoso mengatakan, Banggar juga melakukan pembahasan bersama TAPD untuk dinkronisasi dengan rancangan yang disampaikan.
Beberapa catatan yang di minta untuk segera ditindaklanjuti oleh pemerintah eksekutif, mulai dari pembangunan infrastrutur yang harus terus digenjot, permasalahan penerangan jalan umum, penting adanya penambahan pos siaga bencana di wilayah rawan kebakaran.
“Kami nilai pelaksanaan manajemen di pemerintah desa kurang mumpuni. Karena itu pihaknya meminta agar inspektorat bisa mengintensifikasikan hal ini,” imbuhnya.
Di sisi lain, dia pun mengapresiasi kinerja Pemkab yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ” Hal ini tampak dari adanya peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) dalam beberapa tahun terakhir. “lsetelah mempertimbangkan beberapa aspek, kami beri rekomendasi tentang LKPJ Bupati tahun anggaran 2023,”ungkapnya.
Di tempat yang sama, Pj Bupati Tulungagung, Heru Suseno menjelaskan, upaya pelayanan kepada masyarakat memang harus terus ditingkatkan. Dia menilai apa yang jadi masukan oleh pemerintah legislatif dalam rapat paripurna harus jadi prioritas.
“Terkait infrastruktur, diakui itu butuh biaya besar. Saat ini kita masih berada di angka 52 persen dalam hal pemenuhan infrastruktur dasar berkualitas. Masih ada sisa 36 persen. Ini jadi PR kita,” ulasnya.
Ada tiga pola pembiayaan yang sedang dirancang Pemkab Tulungagung dalam upaya pemenuhan infrastruktur. Yaitu melalui APBD, DBHCT, dan pengajuan bantuan ke pemerintah pusat. “Tapi, ini harus bertahap. Nanti kami sesuaikan dengan proyek yang sudah dilaksanakan agar tidak membebani keungan kita,” tutup Heru Suseno.
Terkait sistem manajemen di pemerintah desa (Pemdes) yang disorot oleh dewan, ada beberapa desa perlu jadi perhatian khusus. Namun, harus diakui bahwa beberapa desa lain punya sistem pelayanan dan manajemen yang mumpuni.












